Kamu Adalah Ketidakmungkinan yang Selalu Aku Semogakan

WarnaBlog -Kisah

Bagian Pertama “Kamu adalah Ketidakmungkinan yang Selalu Aku Semogakan”

“Nis, lama amat sih. Ini bantuin gue bentar. Ada yang nggak ngerti nih.” Teriak seorang lelaki yang sedang duduk di sofa sembari menatap layar ipad.

“Bentar, Van. Ini gue sekalian ambil cemilan. Cemilannya udah jadi kata mama.”

Aku bergegas mengambil cemilan yang sudah selesai dibuat oleh mama, jamur krispi dan kue cokelat kesukaan Jovan. Mama selalu paham apa yang Jovan mau, padahal jelas-jelas anaknya itu adalah aku. Meskipun begitu, mama selalu judes sama Jovan. Semua yang dilakuin Jovan, pasti salah di mata mama.

“Van, nih cemilannya udah jadi. Lu makan dulu gih, kasian dari tadi fokus mulu sama layarnya.” Aku menyodorkan sepiring jamur krispi kepada Jovan dan langsung dia ambil. Sementara setoples kue cokelat juga sudah aku simpan di atas lantai, karena meja sudah penuh dengan kertas-kertas milikku dan Jovan.

Kamu adalah Ketidakmungkinan yang Selalu Aku Semogakan

“Gila, jamur krispi Mama Anya selalu enak gini,” ucap Jovan setelah memakan habis satu buah jamur krispi.

“Bosen banget ucapannya pasti gitu terus” Aku duduk di samping Jovan, mengambil ipad-nya dan melihat masih banyak sekali tugas yang belum dia kerjakan. “Anjir, ini lu dari tadi ngerjain apa sih? Sumpah ya, ini banyak banget yang belum dikerjain. Ah lu mah dari dulu males terus,” jelasku dan langsung kembali menyimpan ipad milik Jovan.

Jovan menoleh dengan mulut yang masih dipenuhi jamur krispi, “lu kan tau, kalau gue lemah banget dihitungan. Makannya gue ke sini, biar lu bisa bantuin gue. Ini dari tadi malah fokus sama tugasnya sendiri,” ketus Jovan dan kembali fokus pada jamur krispy-nya.

Baca Juga : 

“Ya ngapain masuk IPA sih, udah tau banyak hitungan. Apalagi banyak angka-angka desimal. Bunuh diri aja jadi orang.”

Jovan tidak merespon, tapi dia berhenti melakukan aktivitas. Matanya sedikit menerawang. Lama tidak bersuara, lelaki berkulit sawo matang itu menghembuskan napas kasar. Dia melirikku, “kamu tau alasan aku ngambil IPA apa.”

Jovan memutuskan untuk mengambil ipad-nya lagi, lantas membuka beberapa buku materiku dan mulai mencorat-coret sesuatu.

Ketika Jovan sudah mengubah nama panggilan menjadi aku-kamu, dia sedang tidak baik-baik saja. Mungkin saja dia benar-benar serius dengan ucapan beberapa bulan yang lalu. Namun, bagaimana pun aku masih ragu. Ragu apakah semua rasa ini benar, atau salah karena masing-masing dari kita berniat menentang batas dan takdir.

Kamu Adalah Ketidakmungkinan yang Selalu Aku Semogakan

“Udah jangan dipikirin, ayo bantuin gue ngerjain tugasnya.”

Jovan selalu begitu. Selalu bisa membuatku lupa dengan semua masalah-masalah yang dihadapi. Entah masalah sekolah, atau masalah perasaan seperti saat ini.

Aku memutuskan untuk kembali melihat soal-soal di ipad Jovan, memberikan penjelasan sederhana yang bisa dengan mudah dia mengerti. Sementara dia, mendengarkan semua yang aku jelaskan dan mencoba mengerjakan tugasnya sendiri. Setelah selesai, Jovan selalu memintaku untuk memeriksa soal yang sudah dia kerjakan.

“Wih, sekarang Jovan udah pinter nih. Bisa dong besok jalan-jalan seharian,” candaku sambil melihat semua pekerjaan yang sudah diselesaikan Jovan.

“Males banget, mending tiduran sampai pagi lagi.” Jovan kembali memakan sisa jamur krispy. “Aww. Nis sumpah ya ini sakit banget. Ngapain sih pake cubit-cubit segala.” Jovan meringis, sambil sesekali mengusap-ngusap tangan kanan yang barusan aku cubit.

Aku nggak tau kenapa suka banget nyubit tangannya Jovan atau kadang-kadang malah memukulnya. Tapi, Jovan bilang nggak apa-apa kok dicubit terus, asal sama aku dicubitnya. Emang ini anak satu hobinya gombal terus.

“Katanya nggak apa-apa kalau aku yang cubit,” dengusku dan mengembalikan ipad Jovan.

“Ya, nggak apa-apa. Tapi jangan bikin kaget juga, lagi enak-enak makan jamur malah dicubit. Bentar deh, mau ke toilet dulu.” Jovan berdiri, sambil sesekali mengusap tangannya. Sementara tangan kirinya malah membawa pulpen.

“Lah, apa hubungannya dicubit dengan ke toilet? Nggak nyambung banget jadi orang.”

“Nis?”

Aku menoleh ke arah Jovan, lantas sebuah pulpen mendarat keras di dahiku. “Jovan!” teriaku sambil mengelus-ngelus dahi. Sementara Jovan malah langsung lari ke toilet. Benar-benar anak itu. Mana sakit banget lagi.

Entah mengapa setelah Jovan pergi ke toilet, aku masih memikirkan semua hal yang diucapkannya beberapa bulan lalu. Namun, sekali lagi nasihat-nasihat yang mama lontarkan malah lebih mendominasi. Meskipun aku dan Jovan sudah kenal dari kecil, tapi tidak membuat ibu benar-benar bisa baik ke Jovan. Berbeda dengan ayah, beliau sangat percaya kepada Jovan. Setiap mau kemana-mana dan kebetulan ayah sedang dinas, pasti Jovan orang yang ayah cari.

Lelaki itu bisa dengan mudah mengambil hati ayah, tapi tidak dengan mengambil hati mama. Kadang-kadang juga mama sering jutek ke Jovan. Malah, jika Jovan mengerjakan tugas ke rumahku seperti saat ini, mama jarang mengobrol dengannya. Hanya fokus ke laptop kesayangan.

“Nis besok jadi, ya.”

“Ha? Jadi kemana?”

“Makannya, jadi orang tuh jangan keseringan ngelamun kayak gitu deh, jadi lupa kan tadi maunya apa.” Jovan duduk di sampingku. Dia menopang dagu, dan memperhatikanku secara intens.

“Heh, nggak sopan ya mandang-mandang gue.” Aku mendorong pelan tubuh Jovan. Lantas yang didorang malah tersenyum so manis.

“Mata, mata gue, mau mandang apapun ya terserah dong. Oh iya, besok kita jadi ya jalan-jalan seharian. Tapi kata ayah cukup sampai jam 3 aja. Soalnya takut kecapekan, kan hari seninnya harus upacara,” jelas Jovan.

“Siap. Eh bentar, ini maksudnya lu izin gitu ke ayah gue?”

“Tiap mau ajak lu jalan kan selalu izin ke Om Roni. Kebutulan tadi pas mau ke toilet, gue liat ayah lu di dapur, yaudah sekalian izin.”

“Loh ayah udah pulang, tumben lebih cepet sehari.”

Jovan tidak menanggapiku, dia sedang sibuk membereskan buku, ipad dan alat tulisnya ke dalam tas. “Gue balik dulu, ya. Udah sore, takut dimarahin Mami.” Jovan kembali berdiri.

“Tumben banget takut dimarahi Mami. Biasanya juga suka keluyuran malem-malem.”

“Udah ah, lagi nggak mau berantem nih gue. Balik dulu, ya. Bilangin salam ke ayah sama mama.”

Jovan ke luar rumah dan aku mengekor. Dia mengambil motor dan mulai menyalakannya. “Besok jam 10 gue jemput, awas lu kalau ngaret.”

Lanjutan Bagian Kedua “Kamu Adalah Ketidakmungkinan yang Selalu Aku Semogakan”

“Ma, liat kerudungku yang warna cream, nggak?”

Mama masuk ke kamarku dan membanu mencari kerudung yang akan digunakan. “Nih.” Mama menyodorkan kerudung yang sedari tadi aku cari. “kamu mau pergi bareng Jovan lagi?”

“Iya, Ma. Katanya Jovan juga udah izin ke ayah dan diizinin kok,” jelasku sambil mencoba memakai kerudung yang tadi ditemukan oleh Mama.

“Ke Mama nggak izin tuh. Aneh Mama sama Jovan, beraninya sama ayah aja, sama Mama nggak pernah berani minta izin.” Mama duduk di kasurku. Dari cermin yang posisinya di samping ranjang, aku bisa melihat bagaimana ekspresi mama ketika membicarakan tentang Jovan.

Mama memang tidak terlalu suka kepada Jovan. Padahal teman yang sedari kecil masih menjagaku, ya Jovan. Lelaki itu nggak pernah sekali pun nyakitin aku, justru dia paling posesif kalau ada satu pria yang mengajakku jalan. Dia nggak baik buat kamu. Selalu saja itu yang dibilang Jovan.

“Ma, udah, ya. Jovan baik, kok. Dia selalu jaga Nisa, Mami sama Papi-nya juga baik ke Nisa.” Setelah selesai memakai kerudung, aku duduk di samping Mama. “Mama jangan judes lagi, ya sama Jovan.”

Mama menaikkan satu alisnya dan menatapku tajam “Mama judes sama Jovan? Ngobrol panjang aja nggak pernah mama lakuin. Nis, inget ya nasihat-nasihat mama. Kamu hanya temenan sama Jovan, nggak boleh lebih dari itu.” Nada bicara mama meninggi. Selalu saja seperti ini kalau sudah membicarakan Jovan. Kenapa sih hati mama keras banget buat dimasukin sama Jovan?

“Ada apa nih pagi-pagi udah rame aja.” Suara bariton yang khas itu terdengar. Siapa lagi jika bukan ayah.

“Ini nih, didikan kamu. Dari kecil udah saya bilang jangan deketin Nisa sama anak temen kamu. Sekarang liat? Dia ketergantungan.” Mama berdiri dan menatap ayah tajam, lantas setelah itu mama pergi meninggalkan kamarku.

“Salah ya, Yah kalau aku temenan sama Jovan? Padahal kita temenan udah lama, tapi kok mama nggak pernah bisa nerima Jovan? Setiap Mami dan Papi Jovan kesini, mama tidak pernah ikut ngobrol. Sekeras itu ya, hati Mama buat nerima keluarga Jovan?”

Masih banyak tanya yang ingin aku lontarkan kepada Ayah. Semua tentang mama dan Jovan kadang membuatku sangat bingung. Untunglah ayah ada di sini, setidaknya aku bisa mencurahkan beban pikiranku.

“Ayah juga kurang tau kenapa Mama selalu kayak gitu. Tapi, Nisa jangan terlalu memikirkannya, ya. Ayah pasti selalu dukung Nisa. Tapi, selalu inget ya kata Mama. Jangan melewati batas pertemanan kamu sama Jovan. Ayah tau Nisa udah gede, jadi pasti tau juga alasannya apa. Udah ah, ayo siap-siap, bentar lagi Jovan jemput tuh.” Ayah kembali ke luar dari kamarku.

Iya, aku sangat tau konsekuensi ketika harus melewati batas pertemanan itu. Tapi, hatiku tidak bisa melakukan kompromi. Kadang-kadang, hubungan yang lebih ingin aku dapatkan, tapi bagaimana caranya.

 

Baca Juga :

Kamu Adalah Ketidakmungkinan yang Selalu Aku Semogakan

Deru motor Jovan sudah terdengar di depan rumah. Aku bisa mendengar dengan jelas bagaimana Jovan meminta izin kepada Ayah dan Mama. Meskipun yang mendominasi adalah kejudesan mama, tetapi masih terdengar dengan jelas bagaimana nada bicara sopan yang dilontarkan Jovan kepada Mama atau Ayah.

Setelah tidak terdengar pembicaraan, aku memutuskan untuk keluar dari kamar yang posisinya bersebelahan dengan ruang tamu. Ketika membuka pintu, bisa kulihat senyum Jovan yang sangat manis. Terlebih, ada lesung pipi di kedua pipinya. Aku membalas senyumnya itu.

“Yuk, Van, keburu siang nih.”

Jovan hanya mengangguk. Sementara aku, dengan segera mencium tangan ayah dan mama diikuti dengan Jovan.

“Aku berangkat, ya. Pulangnya nggak akan telat, kok. Assalamualaikum.”

Jovan segera mengambi motor dan memberikan satu helm kepadaku.

**** Bagian Kedua “Kamu Adalah Ketidakmungkinan yang Selalu Aku Semogakan”

Setiap 6 bulan sekali, selalu ada bazar buku yang digelar di salah satu landmark kotaku. Berbagai buku, mulai dari novel, buku bergambar, buku sekolah, al-qur’an, alkitab sampai dengan buku tulis pun ada di sini. Menariknya, berbagai buku tersebut selalu memiliki potongan harga.

Tempat ini selalu menjadi tujuan aku dan Jovan setiap 6 bulan sekali. Selain memang menjual berbagai macam jenis buku, biasanya ada juga yang menjual jajanan jadul. Bahkan, kadang ada banyak perlombaan yang digelar berhubungan dengan literasi.

“Nis, jadinya mau beli novel apa sih?” Jovan mengikutiku untuk berjongkok.

“Bentar, belum nemu yang bagus, nih.” Aku masih mencari novel bekas yang biasanya memiliki harga lebih murah, selain itu juga bisa mendapatkan diskon.

Box ini memang khusus untuk novel atau buku bekas. Meskipun memang tumpukannya tidak rapi karena sudah diacak-acak setiap pengunjung, tetapi aku tidak pernah peduli. Biasanya, jika lebih lama mencari, bahkan mencari sampai bawah, bisa menang jackpot, nih. Alias bisa dapet novel yang sangat menarik.

“Udah belum?” Capek berjongkok, Jovan memutuskan untuk berdiri lagi.

“Oke sudah.” Ya, aku mendapatkan novel yang jika dibaca dari blur-nya sangat menarik.

Selesai mendapatkan novel tersebut, aku segera membayarnya dan memutuskan untuk berkeliling kembali.

Hari ini ternyata ada sebuah pertunjukan tari tradisional yang dibawakan oleh anak-anak. Aku dan Jovan memutuskan untuk melihatnya terlebih dahulu. Dengan balutan kebaya warna hijau, anak-anak itu mulai menari sesuai dengan alunan. Namun, di tengah pertunjukkan, musiknya berhenti, karena memang sudah adzan.

“Solat dulu, Nis. Biar nanti lebih leluasa mainnya.”

Aku mengangguk dan memutuskan untuk ke mushola yang masih ada di gedung ini. Sementara itu, barang bawaan termasuk novel, aku titipkan kepada Jovan. Seperti biasa, dia menungguku di luar mushola.

Kadang, dalam setiap solat, aku selalu membawa nama Jovan. Meskipun kita terlahir berbeda, aku ingin selalu dengan Jovan. Enggak tau gimana jadinya jika kelak dia memutuskan untuk pergi, apa aku akan baik-baik saja?

Aku tau, kemungkinan yang selalu kusemogakan tidak jelas akhirnya. Bisa saja benar apa kata mama, akhirnya sangat menyakitkan. Tapi bagaimana bisa tau akhirnya, jika awalnya saja belum dimulai.

“Cukup Jovan, ya Allah,” lirihku dalam hati.

Bagian Ketiga “Kamu Adalah Ketidakmungkinan yang Selalu Aku Semogakan”

“Loh, kok kita malah ke taman, Van?”

Jovan memarkirkan motor dan membuka helmku. Meskipun dari tau aku sudah tau bakalan dibawa ke taman kota, tetapi memilih untuk diam saja. Sudah pasti, Jovan memiliki alasan ketika membawaku ke sini.

“Nggak apa-apa, pengen aja. Duduk di tempat biasa, yuk.” Jovan menggenggam tanganku dan berjalan menuju tempat biasa.

Seperti biasa, taman ini selalu menjadi tujuan ketika kita mulai ragu. Aku yang ragu dengan perasaanku, Jovan yang ragu tentang pertemanan kita. Benar kata Sheyna, cowok sama cewek kalau temenan, salah satu atau salah duanya pasti punya rasa lebih dari temen. Meski sebenarnya aku masih tidak yakin, tetapi semua perlakuan Jovan bisa membuat perasaan itu menjadi yakin.

Aku dan Jovan duduk, sambil sesekali bercanda. Dari sorot matanya, aku bisa melihat, ada hal yang ingin lelaki itu sampaikan. Tentu saja, selalu tentang perasaan kita.

“Kenapa, Van?”

Baca Juga :

Lelaki berhidung mancung itu, menatap langit biru. Saat ini sorot matanya seperti menerawang sesuatu, “kalau aku udah lebih sayang sama kamu, apa hubungan kita bisa lebih dari sekedar teman?” Jovan tidak berani menatapku. Dia masih menatap langit.

Sudah kuduga, sahabat kecilku ini akan menanyakan hal yang sama seperti beberapa bulan yang lalu. Sampai saat ini, aku masih tidak paham mengenai perasaanku. Ditambah, kadang aku takut melangkah lebih jauh dari sekedar teman. Baik ayah dan mama, pasti tidak akan suka jika hubungan ini terlalu jauh.

“Van, bisa tolong jangan bahas ini? Aku tau, kamu udah nunggu lama. Tapi sampai saat ini, aku nggak tau perasaanku.” Sekarang, aku yang tidak berani menatap wajah Jovan. Rasanya, seperti ada sakit di bagian dada.

“Dan kamu tidak berusaha untuk mencari tau bagaimana perasaanmu?”

Dari ujung mata, aku bisa melihat bahwa saat ini Jovan sedang menatapku tajam. Lelaki itu memang tidak pernah memaksa, tapi soal perasaan, nampaknya dia sudah lelah jika kita hanya terpaku pada status teman saja.

“Bukan gitu.” Aku memberanikan diri menatap Jovan.

“Terus gimana, Nis? Kenapa kamu selalu ragu kalau kita bisa lewatin semuanya bersama? Kenapa kamu selalu berpikiran bahwa kisah kita akan berakhir kecewa? Sekali aja, Nis ikutin kata hati kamu. Jika memang pada akhirnya kita gagal, kamu nggak perlu khawatir, aku akan pergi.” Jovan menggenggam tanganku.

Ada sakit ketika mendengar apa yang dia katakan. Justru, aku tidak masalah kita nggak pacaran, asal bisa sama-sama terus. Aku bisa manja sama kamu. Kamu yang posesif sama aku, tapi tolong jangan pergi dan hilang.

“Van, cukup, ya. Aku mau pulang. Kamu nggak usah nganterin aku.” Aku melepaskan genggaman tangan dia dan langsung pergi.

**** Lanjutan Bagian Ketiga “Kamu Adalah Ketidakmungkinan yang Selalu Aku Ssemogakan”

Sheyna, lagi sibuk, nggak? Mau curhat.

Sepulang dari taman, aku memutuskan untuk mengurung diri. Meskipun pada awalnya aku ditanyai kenapa pulang tidak bareng Jovan, tetapi nampaknya ayah tau sesuatu dan membiarkanku untuk mengunci diri di kamar.

Sementara mama, masih bisa kudengar sedang berdebat dengan ayah mengenai aku dan Jovan.

Drrtt drrtt

Suaru ponselku berbunyi, tidak lain ada pesan dari Sheyna. Sebenarnya, ada banyak juga pesan dari Jovan, tapi aku enggan untuk membalasnya.

Nggak sibuk, kok. Telpon aja, Nis. Biar lebih enak curhatnya.

Sheyna, teman SMP yang sangat tau tentang bagaimana kedekatanku dengan Jovan. Dia satu sekolah denganku dan kebetulan sekelas.

Aku ngetik aja, ya. Takut nangis.

Kamu kenapa? Jovan lagi?

Setelah pesan itu, aku menjelaskan mengenai ibunya yang masih kurang suka sama Jovan sampai dengan kejadian terakhir yang aku dan Jovan lalui.

Nis, beneran kamu nggak suka sama Jovan? Padahal jelas-jelas aku bisa liat loh gimana sayangnya kamu sama Jovan. Kamu yang selalu marah kalau Jovan milih makan siang dengan teman perempuannya, kamu yang selalu nemenin Jovan latihan bulu tangkis. Kamu yang selalu obatin Jovan kalau dia berantem. Bahkan, kamu rela nginep di rumah sakit, hanya untuk memastikan Jovan tidak apa-apa. Padahal saat itu, Jovan hanya terluka sedikit. Seposesif itu kamu sama dia. Tapi kamu masih belum paham sama perasaan kamu sendiri.

Kita sekolah hanya 1,5 tahun lagi, Nis. Kamu tau setelah lulus SMA, kemungkinan besar sulit untuk bisa bertemu dengan Jovan. Dia sudah ditandai banyak pelatih bulu tangkis dan bukankah dia akan pergi sangat jauh? Iya, aku jahat karena selalu ngingetin kamu tentang ini. Tapi jika kamu masih belum memastikan perasaanmu, maka jangan bilang ke aku kalau suatu saat kamu nyesel.

Membaca pesan dari Sheyna membuatku semakin bingung dan sakit. Setelah 12 tahun bersama, mungkin setelah lulus SMA aku sama Jovan bakal bener-bener pisah. Aku ingin menggapai mimpi untuk sekolah di Jepang, sementara Jovan pasti akan fokus pada olahraga kesukaannya, yaitu bulu tangkis.

Aku masih belum sanggup jika memikirkan hal itu. Semuanya terasa menyakitkan. Jika meyakinkan perasaan, ujung-ujungnya pasti akan kecewa. Meski tumbuh bersama, tapi aku dan Jovan berbeda.

Tapi Shey, aku sama Jovan beda. Kamu harus selalu inget itu.

Perbedaan itu? Banyak kok yang sukses dengan cinta beda agama. Asal kamu yakin aja, maka semuanya juga akan baik-baik aja. Nggak perlu takut mikirin akhir kisah kalian gimana, kalau awalnya aja kamu masih takut melangkah.

Aku memutuskan untuk tidak membalasnya.

Kamu adalah Ketidakmungkinan yang Selalu Aku Semogakan

Bagian Keempat “Kamu Adalah Ketidakmungkinan yang Selalu Aku Semogakan”

“Tumben banget nggak berangkat bareng Jovan?” tanya Sheyna ketika baru saja aku turun dari ojek online.

“Tadi dia bilang nggak bisa jemput. Padahal gue udah nunggu lama, mana ngabarinnya pas udah agak siang. Untung banget pas pesen ojek online, langsung dapet sopirnya,” keluhku.

Entah kenapa Jovan nggak menjemputku hari ini, padahal hari senin tuh waktunya upacara dan harus datang lebih cepat dibandingkan hari-hari lainnya. Tapi Jovan malah bilang nggak bisa jemput.

“Tapi nggak lagi marahan, kan?” selidik Sheyna.

“Mana ada marahan, semalam aja chat-an kayak biasa. Lu tau Jovan nggak pernah bisa marah sama gue …”

“Tapi lu kalau marah sama dia, beuh satu sekolah bisa pada tau,” potong Sheyna. “Eh itu kan Jovan.” Sheyna menunjuk ke arah motor matic yang baru saja melewati kita.

Dari plat motornya, itu memang motor milik Jovan. Motor itu terparkir dan Jovan langsung menuruninya, diikuti dengan seorang perempuan yang sedang melepas helm.

“Bisa-bisanya itu anak ngebiarin gue nunggu, padahal malah jemput cewek lain,” keluhku.

“Mau kemana, lu? Udah ah ayo ke kelas nyimpen tas, bentar lagi upacara nih.” Sheyna menarik tanganku. Padahal demi apapun aku ingin sekali memarahi Jovan. Anak itu benar-benar.

“Kalau setidaknya nggak bisa jemput gue, ya kabarin dong dari semalem. Sumpah ya gue kesel banget. Rasanya mau mukul dia,” cecarku sepanjang jalan menuju kelas.

Sheyna hanya terdiam.

“Gue nggak masalah Jovan mau berangkat sama siapa pun itu, yang penting kabarin gue dulu. Jangan biarin gue nunggu kayak tadi. Kalau dapet sopirnya lama, bisa-bisa gue nggak bisa masuk kelas hari ini.”

“Lu kalau cemburu selalu nyusahin gue. Udah diem,” bentak Sheyna.

Cemburu? Sumpah demi apapun aku nggak pernah cemburu sama Jovan, hanya kesel sama kecewa doing, kok. Lagi pula ngapain cemburu, toh kita hanya temenan aja.

Aku dan Sheyna sampai di kelas, lantas menyimpan tas dan bergegas ke lapangan. Namun, baru aja keluar dari kelas, udah ada Jovan lagi.

“Nis, tadi naik apa? Lu nggak kesiangan, kan?” Jovan berusaha menyamakan langkah kakinya dengan aku dan Sheyna.

“Kalau gue udah di sini, berarti gue nggak kesiangan,” ketusku.

“Bener juga. Tumben lu pinter.” Seperti biasa, Jovan mengelus kerudungku.

“Jangan elus-elus kepala gue lagi. Sana jangan deketin gue. Nggak mood banget hari ini sama lu.” Aku memutuskan untuk mempercepat langkah dengan Sheyna. Bisa kudengar bahwa Jovan hanya memanggil saja, tidak mengejarku. Tumben banget tuh anak, pasti udah punya gebetan, makannya nggak ngejar gue.

Aku dan Sheyna segera berbaris dengan teman-teman yang lainnya. Upacara sudah akan dimulai. Semua siswa dan siswi sudah berbaris dengan rapi. Di depan sudah ada kepala sekolah, para guru, PMR, paskibra dan beberapa orang lainnya yang membantu keberlangsungan upacara.

Sekitar 30 menit, upacara sudah selesai. Para guru dan siswa mulai ke ruangannya masing-masing. Seperti biasa, setiap hari senin, kelasku dan Sheyna selalu mendapat ulangan harian kimia. Bu Ema—guru kimia kita memang selalu mengadakan ulangan harian sebelum nantinya belajar bab baru. Katanya, biar para murid bisa lebih paham tentang apa yang dijelaskan di minggu sebelumnya.

**** Lanjutan Bagian Keempat “Kamu Adalah Ketidakmungkinan yang Selalu Aku Semogakan”

“Ayo ke kantin,” ajak Sheyna, ketika bel istirahat sudah berbunyi.

“Males ih, hari senin ngantrinya panjang. Lagian kan tiap hari senin selalu dapet jatah dari Maminya Jovan. Mau nunggu dia aja.” Aku masih menopang dagu dan menatap ke arah Sheyna yang sudah berdiri.

“Iya deh iya yang selalu dibawain makanan sama calon mertua,” Sheyna menjulurkan lidah, lantas bergegas pergi ke luar kelas.

Sebenarnya tidak hanya hari senin saja, tapi hampir tiap hari selalu dibawain makanan sama Maminya Jovan. Kadang, ketika sedang puasa sunah, Jovan yang akan menghabiskan semuanya atau aku bawa ke rumah untuk dimakan pas buka.

Ayah nggak pernah marah kalau aku dapat makanan dari Maminya Jovan, tapi mama beda lagi. Pasti marah banget, katanya nyusahin, katanya takut nggak halal dan banyak lagi komentar yang selalu mama lontarkan.

Sudah hampir 15 menit aku nunggu di kelas, tapi tidak ada tanda-tanda kemunculan Jovan. Oh iya, aku sama Jovan memang beda kelas. Dia kelas 11-D, aku kelas 11-A. Mungkin terdengar seperti hanya terhalang oleh 2 kelas saja, tapi nyatanya kelas C dan D ada di lantai atas.

Drrt drrtt

Lu mending makan di kantin deh, gue pesenin. Jangan nungguin Jovan.

Deg!

Tumben banget Sheyna chat ginian. Mau ke kantin, tapi takut Jovan ke sini. Mau nunggu, tapi takut Jovan nggak datang.

Lama berpikir, akhirnya aku memutuskan untuk ke kantin saja, karena memang sudah sangat lapar. Kantin sendiri terletak dekat dengan gerbang sekolah dan itu artinya hanya terhalang oleh 2 kelas dan 1 koridor saja untuk bisa sampai ke sana.

Sesampainya di kantin, aku mencari-cari Sheyna. Namun, yang terlihat malah Jovan sedang makan dengan perempuan yang tadi.

Dengan tergesa, aku mendekatinya. Nggak peduli kalau di kantin ini ada banyak siswa. Nggak peduli kalau di sana juga ada teman-teman Jovan dan beberapa perempuan lain.

“Jovan!” teriakku.

Sekuat tenaga, aku memukul bahu Jovan, “lu tuh ya, gue nunggu di kelas lama, nunggu bekal dari Mami, tapi lu malah di sini. Tau nggak sih? Gue laper banget. Kalau emang nggak bisa anter makanannya ya bilang, biar gue ambil sendiri. Apa sih susahnya ngabarin? Tadi pagi aja gue hampir telat gara-gara lu, sekarang? Sumpah ya, nggak ngerti lagi deh gue.”

Meledak. Iya, aku sangat meledak. Sesusah itu untuk berkomunikasi? Sesusah itu untuk bilang kalau mau makan sama orang lain? Aku memutuskan untuk meninggalkan Jovan, tapi dia malah menahanku.

“Lepasin! Jangan hubungi gue lagi!” Aku mencoba melepaskan genggaman tangan Jovan, dan akhirnya terlepas.

Sheyna ternyata sudah ada di belakang dan mengikutiku.

Kamu Adalah Ketidakmungkinan yang Selalu Aku Semogakan

Sesampainya di kelas, tangisku benar-benar meledak. Nggak peduli kalau di kelas udah banyak orang. Nggak peduli kalau dikatain alay. Nggak peduli juga mereka katain aku drama. Nggak peduli! Cuman mau nangis aja.

“Udah, Nis. Minum dulu, yuk. Tau kok, lu tadi pasti lapar banget, kan? Udah, ya. Ini gue bawa rice bowl kesukaan lu.” Sheyna menepuk-nepuk punggungku.

Aku nggak tau kenapa rasanya sakit banget lihat Jovan akrab dan malah ketawa-ketawa dengan perempuan tadi. Aku nggak tau kenapa rasanya ingin sekali bilang ke semua perempuan agar nggak usah dekat-dekat sama Jovan. Cukup gue aja.

“Shey, yang tadi itu pacarnya Jovan, ya?” rengekku.

“Bukan. Dia sukanya sama lu, masa jadian sama orang lain. Udah cepetan makan, bentar lagi bel masuk.”

Aku terdiam cukup lama. Jovan suka aku? Sebuah fakta yang selalu aku sangkal. Bagaimana pun juga rasanya aku belum yakin dengan perasaan sendiri. Lebih tepatnya, takut dengan berbagai macam kemungkinan. Bagaimana jika memang kita ditakdirkan hanya untuk mengajarkan keikhlasan? Bagaimana jika memang takdir kita tidak untuk bersama. Berbagai hal terus saja memenuhi pikiran.

Bagian Kelima “Kamu Adalah Ketidakmungkinan yang Selalu Aku Semogakan”

“Nis, pulang bareng gue.” Jovan menarik tanganku, tapi dengan refleks aku melepaskannya.

Bel pulang baru saja berbunyi dan Jovan sudah masuk ke kelasku.

“Nggak mau. Gue mau pulang bareng Sheyna,” ketusku membuang muka dan mengambil tas.

“Gue bilang, pulang bareng gue!” bentak Jovan dan menarik tanganku. Lantas membawaku pergi.

Kalau Jovan sudah membentak, aku nggak berani sedikit pun untuk bicara. Dia sangat menyeramkan. Lesung pipi yang selalu kukagumi mendadak hilang. Matanya melotot. Wajahnya juga agak memerah.

“Pakai, dan langsung naik,” perintah Jovan sambil menyodorkan helm.

Aku menurutinya dan langsung naik motor. Beberapa detik kemudian, motor sudah melesat ke jalan. Di sepanjang perjalanan, aku dan Jovan sama-sama terdiam. Kita sibuk dengan pikiran masing-masing.

Jovan pasti marah karena sikapku tadi. Sebenarnya, aku mendengar banyak bisik-bisik tentangku dan Jovan di sepanjang koridor. Lebih tepatnya, bisik-bisik tersebut ditunjukan untukku saja. Tidak salah memang, sebab akulah yang salah di sini.

“Padahal bukan siapa-siapanya Jovan, tapi kok posesif banget.”

“Aneh banget sama Nisa. Jovan deket sama cewek enggak boleh, dianya malah deket-deket tuh sama banyak cowok.”

“Udah kucel, so pinter, posesif lagi. Padahal cuman masalah makan dan jemput doang. Status cuman temen sih harusnya bisa sadar, ya.”

Begitulah sedikit bisik-bisik yang kudengar. Tapi, pasti lebih banyak lagi yang lainnya. Aku tau kok, apa yang tadi dilakukan pasti dianggap drama di mata banyak orang. Nggak apa-apa mereka mau anggap aku so pintar, padahal aslinya memang pintar. Dibilang kucel, padahal penampilanku nggak ada kucel-kucelnya. Halah bodo amat sama omongan mereka. Selama aku punya Jovan dan Sheyna, nggak perlu dengerin mereka. Toh, mereka nggak punya andil dalam hidupku.

“Heh, turun, malah ngelamun.”

Aku melihat Jovan yang sudah turun dari motor. Aku pun segera melepaskan helm dan turun.

“Loh, ke taman yang kemarin?” Aku berusaha menyamakan langkah dengan Jovan.

“Iya.” Jovan menghentikan langkahnya, lantas melirik ke arahku “oh iya, Nis. Besok-besok jangan kayak tadi lagi, ya. Tau banget aku salah udah bikin kamu nunggu, nggak kasih kabar. Tapi kamu sendiri tau, aku nggak bakal kayak tadi kalau nggak ada alasannya.”

“Tapi, Van bayangin aja dong, tadi tuh gue hampir mau kesiangan, terus juga pas istirahat tuh laper banget. Gimana nggak marah kayak tadi. Gue juga nggak selamanya tau apa yang jadi alasan lu lakuin sesuatu. Sama kayak lu yang nggak selalu paham isi hati gue. Gue cuman minta, kalau ada apa-apa tuh dikomunikasiin. Tau banget kok, gue cuman temen. Nggak ada apa-apa sama lu. Tapi, gue cuman mau dikabarin doang, kok. Nggak nuntut lebih,” jelasku sambil memutuskan untuk duduk.

Jovan ikut duduk. Dia menyuruhku untuk menatapnya. “Iya aku salah, Nis. Aku salah karena nggak ngabarin kamu. Maaf, ya.” Jovan menggenggam tanganku. “Aku udah beberapa kali nawarin kamu agar hubungan ini lebih dari sekedar teman. Agar kita bisa punya rencana masa depan bareng. Tapi, kamu selalu nolak. Kali ini, aku mau menawarkan kembali hal yang sama. Tapi, jika kamu nolak, aku nggak bisa mastiin bakal selalu ngabarin kamu atau enggak.”

Aku melepaskan genggaman tangan Jovan. Menyenderkan kepala ke bangku taman dan menatap lamat-lamat langit senja ini. Nyatanya, aku masih enggak membuka hati lebih lebar untuk Jovan, tapi di sisi lain, aku takut dia hilang.

Bukan hilang dari pandangan, tetapi hilang dari jangkauan. Mungkin nanti Jovan akan pergi, nggak akan antar jemput lagi, nggak akan bawain bekal lagi. Mungkin nanti, saat istirahat, bukan aku yang Jovan cari, tapi perempuan lain yang sudah bisa lebih membahagiakannya. Dia berhak bahagia, aku juga. Tapi, apa bisa kita melawan takdir?

Aku menarik napas dalam-dalam, menoleh lelaki yang saat ini sedang menatap kosong ke arah depan.

“Van, ayo kita coba,” desisku.

Jovan terperangah, dia menatapku tajam “Beneran, Nis?”

“Iya, ayo kita coba. Nanti, kita minta izin sama Tuhan kita masing-masing, ya,” lirihku.

Terdengar seperti candaaan, tapi benar-benar sangat menyesakkan. Kenapa perbedaan keyakinan sulit untuk membuat ikatan di antara dua insan? Kenapa perbedaan keyakinan selalu menjadi perdebatan banyak orang? Bukankah hanya perlu percaya dan yakin pada Tuhan masing-masing saja?

Sejak hari ini, aku resmi berpacaran dengan Jovan. Lelaki itu mengajakku menonton bioskop bersama-sama. Main di taman hiburan, berbelanja beberapa cemilan dan lain sebagainya. Seperti ini ternyata rasanya pacaran. Lebih menyenangkan, lebih banyak kupu-kupu yang berterbangan di perut.

Sepanjang date hari ini, banyak sekali yang kita ceritakan satu sama lain. Tentang aku yang masih denial terhadap perasaan sendiri. Tentang aku yang tidak suka lihat Jovan dengan cowok lain dan masih banyak hal yang aku ceritakan.

Sementara, Jovan juga menjelaskan mengenai perempuan tadi yang kebetulan motornya mogok ketika akan berangkat sekolah. Perempuan yang ditolongnya memaksa untuk makan siang bersama dan cerita-cerita lainnya.

Kamu Adalah Ketidakmungkinan yang Selalu Aku Semogakan

About admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *